Siapakah Ghuraba Sesungguhnya dalam Islam?


Rasulullah saw telah menyebutkan bahwa Islam akan kembali asing di akhir zaman. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim disebutkan bahwa beliau bersabda, “Islam muncul dalam keadaan asing dan ia akan kembali asing sebagaimana ia muncul, maka beruntunglah bagi orang-orang asing.”
Kita semua tahu bahwa Islam pada awalnya dinilai aneh dan asing. Kaum muslimin ketika fase Makkah menjadi minoritas dan tertindas. Jumlah mereka sangat sedikit dan lemah. Namun mereka tegar dan enggan bekerja sama atau meminta belas kasih kepada kafir Quraisy.
Ya, Islam memang tidak ada kata kerja sama dengan kejahiliahan. Itulah sebabnya kaum kafir Quraisy menjadi berang kepada pemeluknya dan berusaha memberangus Islam hingga ke akar-akarnya. Hal ini dimulai dengan menyiksa, memfitnah, mengusir para sahabat Rasulullah SAW. Tujuannya agar mereka bisa murtad kembali, memuja berhala, mengundi nasib dengan panah, minum arak dan sebagainya. Tapi dengan kuatnya iman di dada dan kesabaran jiwa yang luar biasa, para sahabat tetap berdiri tegak mengikuti dakwah Rasulullah saw.
Hal tersebut semakin menambah berang kaum kafir Quraisy terutama para pembesarnya. Jika dulu obyek siksaan adalah para sahabat, kini mereka mulai berani melancarkan makar langsung kepada Rasulullah saw. Apalagi didukung dengan kematian paman tercinta beliau, Abu Thalib. Puncaknya, kaum kafir Quraisy memboikot Rasulullah saw dan sahabat, bahkan keluarga beliau Bani Hasyim selama tiga tahun.
Karena kerasnya cobaan yang diderita kaum muslimin, Rasulullah saw menyuruh sahabat-sahabat beliau untuk berhijrah. Mereka rela meninggalkan keluarga, tempat tinggal, negeri dan hal-hal yang bagi manusia biasa berat ditinggalkan. Di samping itu, mereka berhijrah dalam keadaan diasingkan oleh kaum mereka. Inilah yang dimaksudkan Al-Harwy dan Al Baghawy tentang siapa itu Al-Ghuraba’.
Mereka berkata, “Al-Ghuraba’ ialah kaum Muhajirin yang berhijrah dari negeri mereka karena Allah Ta’ala.” [1]
Al Qadhi bin Iyadz berkata, “Secara umum hadits tersebut menyatakan bahwa Islam muncul melalui sebagian kecil manusia, kemudian Islam akan tersebar dan menang. Tapi kemudian Islam akan berkurang sehingga tidak tersisa kecuali hanya sekelompok minoritas.” [2]
Ya, Islam akan kembali asing setelah jaya. Ia akan kembali menjadi suatu yang diabaikan dan dibenci. Orang-orang yang masih berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dianggap kolot, tidak moderat, kuno dan berbagai hinaan lainnya. [3]
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah sebagaimana ular bersarang ke dalam sarangnya.” [4]
Al-Qari mengomentari hadits ini, “Maksudnya bahwa dulu ahlul iman pergi ke Madinah demi menyelamatkan iman atau karena Madinah merupakan tempat yang cocok dan kuat untuk memerankan hal tersebut. Hadits ini merupakan pengabaran tentang akhir zaman yang akan kembali seperti semula ini.”
Tetapi menurut Imam Baghawy dalam Syarh Sunah, hal ini terjadi ketika zaman riddah pada Khilafah As-Shidiq. Yaitu ketika semua wilayah jazirah Arab yang ketika Rasulullah saw meninggal, semuanya menjadi murtad kecuali wilayah Hijjaz saja. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Zaid bin Milhah dari bapaknya, dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya dien (Islam) akan berkumpul ke Hijjaz sebagaimana ular bersarang di sarangnya.” [5]
Walau begitu, hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa yang masih termasuk ajaran dien ini secara kaffah adalah mereka yang termasuk golongan minoritas. Oleh sebab itu Rasulullah saw menyebut mereka dengan kata فطوبى  untuk mereka yang tetap istiqamah di zaman fitnah yang besar itu.
Para ulama sendiri berbeda pendapat tentang arti طوبى  tersebut. Menurut Ibnu Abbas artinya ialah kesenangan dan pandangan yang indah. Menurut Ikrimah, kenikmatan bagi mereka. Menurut Adz-Dzahhak, kebahagiaan. Menurut Qatadah, kebaikan bagi mereka. Dan menurut Ibn ‘Ajlan, kebahagiaan yang abadi, dan dikatakan, surga. Dan dikatakan juga, pohon di surga. Semua penafsiran ini mengandung arti hadits tersebut.[6]
Selanjutnya muncul persoalan, untuk siapakah kebaikan-kebaikan itu? Tentu saja milik Al-Ghuraba’ sebagaimana sabda Rasulullah saw di atas. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Ghuraba ialah kaum muslimin yang di awal dan akhirnya sabar atas segala cobaan.
Menurut Al-Qari’, “Yang paling jelas bahwa mereka ialah orang-orang yang memperbaiki sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang telah dirusak oleh manusia.”[7]  Beliau bersandar kepada hadits Zaid bin Milhah tadi, yaitu sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya agama ini muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah bagi yang asing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnah-sunnahku yang telah dirusak manusia.” Maksudnya mereka menampakkan dan mengamalkannya menurut kemampuan mereka.
Ada juga hadits dari Abdullah bin Amru. Ia berkata, “Suatu hari Rasulullah saw bersabda tentang “beruntunglah orang-orang asing dan kami di sisi beliau, maka dikatakan, “Siapakah Ghuraba wahai Rasulullah?” Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang saleh ketika banyak orang-orang yang buruk, yang bermaksiat lebih banyak dari yang taat.” (HR. Ahmad dan Thabrany di Al- Ausath). [8]  Wallahu a’lam.
____________________
[1] Shohih Muslim Syarh An Nawawie 2/ 152
[2] Shohih Muslim Syarh An Nawawie 2/ 152
[3] Tuhfatul Ahwadzy 7/ 363 & Shohih Muslim Syarh An Nawawie 2/ 152
[4] Shohih Muslim Syarh An Nawawie 2/ 152
[5] Sunnah At Turmudzy 5/ 18
[6] Tuhfatul Ahwadzy 7/ 363 & Shohih Muslim Syarh An Nawawie 2/ 152
[7] Tuhfatul Ahwadzy 7/ 363
[8] Majmu’ Az Zawa’id 7/ 277


KIBLAT.NET
0 Komentar untuk "Siapakah Ghuraba Sesungguhnya dalam Islam?"

Postingan Populer

Back To Top